Skip to content

SABAR PADA PROSES.

April 9, 2026

Dalam menjalani hidup ini sangat diperlukan Kesabaran, salah satunya, Sabar pada Proses. Zaman canggih saat ini kebanyakan orang selalu mengejar secara cepat akan hasilnya. Tetapi dalam menjalani hidup ini, cara itu kurang tepat, karena setiap momen kehidupan berkondisi, yang artinya selalu berubah ubah. Disini akan ada kisah seorang Pemuda yang tidak Sabar dalam menjalani hidup.

Pemuda itu bernama Alfian yang badannya gagah perkasa, berotot, tetapi mengalami kesulitan hidup. Rumah tangganya  berantakan, setiap usaha selalu gagal, cobaan hidup tidak henti hentinya. Dia sudah putus asa, tetapi salah satu temannya, menyarankan mendatangi seorang Bijak untuk berkonsultasi. Teman itu, pernah dengar orang Bijak itu tinggal diujung suatu desa itu dekat di kaki gunung. Pemuda Alfian bertekad minta saran, nasehat agar segera masalahnya teratasi.

Setelah ketemu, basa basi penghormatan selesai, orang Bijak mengawali obrolannya berkata. Apa keperluan anak Alfian kesini ?. Alfian menjawab, mohon nasehat agar cepat masalahnya teratasi. Orang Bijak berkata, Waduh nak, menjalani hidup adalah melewati proses setiap momen ke momen lainnya yang panjang, sekitar 10 tahun. Alfian berpikir, kenapa lama sekali ?, sambil bertanya, Alfian melanjutkan, saya akan belajar amat keras agar lebih cepat. Orang Bijak menjawab, 20 tahun, Alfian langsung menyela, saya akan belajar siang dan malam tanpa istirahat. Orang Bijak menjawab, 30 tahun. Alfian bingung, setiap berusaha makin keras, jawaban orang Bijak semakin lama.

Lalu Alfian berterus terang, Maaf Guru, semakin saya berusaha keras, Guru menjawab justru  semakin lama. Orang Bijak dengan kalemnya menjawab, Nak, dalam belajar hidup tidak lurus seperti dibayangkan di awal, kita tidak tahu momen berikutnya, kita harus melakukan penyesuaian atau marginal improvement. Kita harus mengalami langsung,  jangan dibandingkan dengan orang berhasil lainnya. Begitulah hidup.

KISAH YANG MENYENTUH HATI.

March 29, 2026
sailboat on the sea with storm and big waves

Kisah ini diceritrakan  perihal kehidupan sehari hari, mungkin ada yang berkesan.

Pada sebuah Sekolah Menengah Atas di daerah kepulauan, seorang Guru mengajar mata pelajaran Etika dan Moralitas sedang mengajar. Guru itu biasanya mengajar membawa banyak buku-buku refrensi pelajaran, namun hari itu tanpa membawa sebuahpun. Murid murid merasa aneh, guru itu lain dari biasanya. Setelah masuk kelas Guru berkata “ Anak anak, hari ini Bapak akan melatih semua murid murid untuk berakal sehat “. Guru memulai kisahnya sebagai berikut “ Suatu hari, sepasang suami istri menaiki Kapal Laut untuk menuju ke suatu tempat yang lebih modern. Pada awalnya perjalanan di laut begitu tenang dan menyenangkan. Di tengah lautan yang luas, tiba tiba gelombang besar dan angin kencang. Kapal menjadi oleng  dan ada bocor pada lambung kapal.

Kapten memerintahkan semua penumpang pindah ke sekoci untuk menyelamatkan diri. Tragisnya sekoci itu sudah penuh penumpang, hanya tersisa satu tempat saja. Suami istri itu berpikir sebentar, lalu mendorong istrinya agar menjauh dan sang suami melompat ke sekoci. Istrinya mengejar dan berteriak-teriak “. Guru menghentikan ceritranya dan bertanya “ Apa yang diteriaki sang istri ? “. Hampir sebahagian besar murid murid mengatakan, mengumpat, memaki maki, mengutuk, semua hal hal yang buruk. Mereka semua focus pada perilaku sang suami yang tidak punya rasa cinta kasih. Guru tidak menjawab benar atau salah, pendapat murid muridnya, malah melanjutkan ceritranya.

Setelah sang suami selamat di daratan, malah balik pulang untuk mengurus anak perempuan semata wayang yang masih kecil. Sebelum pergi anaknyadititipkan kepada tetangganya. Setelah sampai di rumah mengajak anaknya kembali kerumah. Karena anaknya masih kecil tidak terpikir apapun, termasuk soal ibunya. Sang suami bekerja keras membesarkan anaknya sampai remaja. Lama lama karena kesehatannya menurun sang suami akhirnya meninggal. Kebetulan anak perempuannya sudah beranjak dewasa dan menjadi yatim piatu, hidup sendirian.

Suatu ketika,anak perempuan itu bersih bersih, menemukan buku kecil berisi tulisan harian. Tertarik dengan catatan khusus, ingin membacanya ternyata kisah saat kapal akan tenggelam, dia melompat ke sekoci untuk menyelamatkan diri, sedang istrinya berteriak teriak. Teriakan istrinya adalah  “JAGA ANAK KITA AGAR MENJADI ORANG BERGUNA “. Dan ada catatan bahwa ibunya saat itu sakit kanker stadium 4, yang tidak bisa di tolong akan dirawat di rumah sakit.

Begitulah kita biasanya Menilai Hidup seperti murid murid SMA itu, hanya menilai dari permukaan saja. Tanpa mengetahui proses keseluruhan.hidup ini, yang sering disebut sawang sinawang, banyak misterinya.

Menilai hidup adalah proses refleksi diri yang personal untuk memahami makna, kebahagiaan, dan tujuan hidup Anda sendiri. Ini bukan tentang membandingkan diri dengan orang lain, melainkan mengukur kualitas hidup berdasarkan nilai-nilai pribadi. 

Demikianlah kisah ini semoga dapat menginspirasi.

KARMA DAN PENEBUSANNYA.

March 12, 2026

Perkembangan teknologi yang begitu cepat mempengaruhi sikap hidup manusia yang hidup di masa kini. Dimana mana terjadi perlombaan baik ddi bidangteknologi maupun kebutuhan social apa lagi banyak mengabaikan masalah spiritual. Secara singkat disini akan di ulas masalah sebab dan akibat atas pperi laku manusia yang dahulu masihrelevan masa kini. Mungkin bagi  sebahagian orang meyakini sebab akibat tersebut yang dikisah dalam kepercayaan orang tertentu sebagai berikut.

Dosa dan penebusannya.

Kisah ini terjadi menjelang akhir Baratayudha,dimana Duryodana telah terkulai dikalahkan oleh Bima. Dengan sisa nafas, Duryodana mengangkat Aswatama sebagai Panglima Perang untuk menghabisi keturunan Pandawa. Saat bersamaan Kreshna memperoleh firasat tidak baik bahwa ‘ Kekuatan Hitam ‘ semesta akan segera datang. Kreshna mengajak Pandawa ke sungai untuk menyucikan diri sebagai penebusan dosa.  Bersamaan dengan itu Kreshna memuja Dewa Shiwa memohon perlindungannya. Dewa Shiwa menyanggupinya dan mendatangi mereka saat penyucian diri. Bertepatan Dewa Shiwa berada di kemah 5 Putra Pandawa terlihat Aswatama ingin mengabisinya. Terjadilah pembantaian ke 5 putra Pandawa yang sangat mengerikan itu. Pendawa setelah selesai penyucian diri kembali ke kemahnya dengan menyaksikan semua putranya tewas. Disinilah terjadi kesalah pahaman bahwa Dewa Shiwa tidak membantunya, terjadilah perang dengan Dewa Shiwa. Sekali gus semua senjata Pandawa itu di serap oleh Dewa Shiwa dengan marah mengutuknya. Saat inilah Kreshna memohon ampun  atas kesalahan Pandawa. Dewa Shiwa mengabulkan, namun tidak bisa menariknya kembali. Dewa Shiwa bersabda karena Pandawa dilindungi Kreshna  akan terlahir kembali di zaman Kali yuga secara terpisah. Yudistira akan menjadi Raja di Srinagar, Bima terlahir di tempat keramaian, dan saudara yang lain termasuk Drupadi juga sama.

Begitulah kerjanya hukum karma bagi Panca Pandawa sebagai ganjaran atas kesalahan perbuatannya.

Kisah Ratna Kara.

Ratna Kara adalah seorang’ Perampok ‘ yang kejam, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari. Dia harus hidup membiayai kedua orang tuanya, istri serta anak anaknya. Karena kesulitan hidup pekerjaannya hanya dilakukan dengan merampok. Suatu ketika, Resi Narada selalu berkeliling dunia untuk menyebarkan Dharma terutama Cinta Kasih. Resi itu selalu membawa Rebana sebagai hiburan dalam melantunkan doa doanya. Kebetulan saat itu Ratna Kara tidak menemukan siapa siapa untuk dirampok, cukuplah Rebana Resi saja nanti dijual.  Rebana Resi Narada diambil paksa  dan diikat pada suatu Pohon. Sebelum ditinggal Resi Narada bertanya; “ Coba bertanya kepada Ayah/ibumu, istri dan anak anakmu, apakah mau ikut bertanggung jawab atas perbuatanmu itu ?”. Setelah dirumah Ratna Kara bertanya kepada semua keluarganya, ternyata tidak ada yang mau ikut bertanggung jawab. Lalu Ratna Kara kembali ketempat Resi Narada terikat menyampaikan maksudnya.

Resi Narada menyarankan melakukan penebusan dosa dengan meditasi yang kuat. Dikisahkan sampai Semut bersarang penuh ditubuhnya, setelah masak tapanya Resi Narada membangunkan dan diberi nama Resi Walmiki yang artinya sarang Semut dan terkenal yang menyusun Ramayana.

Dresterastra terlahir buta.

Ini  diambil dari dialog Dresterastra dengan Kresnha saat berakhir Bratayudha. Dresterastra bertanya kepada Kreshna; “ Mengapa aku terlahir buta dan anakku 100 orang mati semua ?”. Kreshna tidak menjawab langsung tetapi memberi ‘ penglihatan ‘ 50 kelahiran yang lalu. Drestarastra melihat dirinya pada 50 kelahiran lalu sebagai seorang Pemburu muda yang menangkap seekor Burung di hutan dan menusuk kedua matanya sedangkan 100 telurnya berjatuhan dan pecah. Setelah sadar Drestarastra bertanya kepada Kreshna, kenapa tidak saat itu atau kelahiran setelahnya aku menerima ganjaran itu ?.  Kreshna menjawab; “ Buah Karma tidak seperti emosi langsung bereaksi, mereka menunggu kesempatan untuk berbuah, ibarat Petani baru menanam tidak langsung berbuah. Dalam hal ini Karma menunggu sampai engkau beranak 100 orang. Baru saatnya tiba “.

Begitulah kerja Karma, tidak perlu menyesali masa lalu yang penting berbuat Baik saat ini.

Mungkin dari kisah kisah diatas dapat menginspirasi untuk kebaikan bersama baik secara duniawi maupun spiritual.

Semoga bermanfaat.

TIDAK ADA YANG LEBIH KUASA DARI WAKTU.

February 28, 2026

Di dunia ini tidak ada orang bisa melarikan diri dari ‘ Akibat ‘ Perbuatannya. Mereka harus mampu beradapsi akan irama kosmik, itulah Kebenaran. Waktu berjalan tanpa ampun, apapun akan dilewatinya, tetapi selalu adil. Bagi yang selaras dengan irama itu akan selamat, bila menentangnya akan hancur. Bila kita mengamati dengan sadar atas kebenaran ini akan timbul Kebijaksanaan dalam menjalani hidup ini. Namun ke-egoisan manusia mereka menabrak prinsip kebenaran ini. Waktu tidak memihak siapapun, apapun, mengikat semua mahluk, agar terbentuk ‘ Keseimbangan ‘ jagat raya ini tanpa intervensi secara langsung.

Bagi seseorang berencana melakukan ‘ tipu daya ‘ atas kebenaran ini hanya efektif dalam jangka waktu yang pendek. Sebaliknya bagi mereka selaras dengan ritme ini akan memperoleh keselamatan abadi. Begitulah jalannya Waktu ( Kala ) tanpa terganggu oleh kekacauan sementara dan akan kembali kepada ‘ Keseimbangan abadi ‘. Waktu akan tetap mengalir sampai tujuannya tercapai.

Mari kita perhatikan dialog suci antara Arjuna dan Krishna saat awal Perang Baratayudha yang dahsyat itu. Krishna memberikan ajaran Dharma, Yoga dan hakekat diri sejati, atas keragu raguan Arjuna menghadapi para Guru, saudara yang disayanginya. Disinilah Krishna menjelaskan amat berkuasanya Waktu ( Kala ) tetap berjalan diatas bumi ini. Bahwa hakekat mahluk di dunia, keberadaannya bukan saat ini saja sudah terjadi berkali kali sebelumnya. Arjuna belum mengerti dengan jelas masalah itu, akhirnya Krishna menunjukan aslinya. Arjuna melihat Krishna perwujudan alam semesta berada dalam dirinya.

Dari pengamatan Arjuna, ternyata Waktu ( Kala ) bukan sekedar Durasi tetapi Kekuatan yang ‘ Memelihara juga ‘ Mengakhiri ‘ alam ini. Penampakan ini juga menggambarkan setiap momen jutaan mahluk hidup yang lahir dan mati berulang ulang ( Reinkarnasi ). Kesemua mahluk itu suatu saat ada dan saat lainnya hilang sesuai durasi tertentu. Dari pengalaman Arjuna menyaksikan Kebenaran keberadaan mahluk di alam semesta ini, keragu raguannya lenyap. Akhirnya berkeyakinan bahwa Peperangan ini hanyalah salah satu dari hukum kosmis yang tidak bisa ditolak.

Dari pengalaman ini Arjuna memperoleh pencerahan batin, Waktu ( Kala ) setiap peristiwa menunjukan tempatnya yang abadi. Juga terlihat kekuatannya yang perkasa tanpa ada yang mampu mempercepat maupun menundanya. Setelah Krishna kembali kewujud manusianya berkata; “ Hidup dan mati, kemenangan dan  kekalahan semuanya dalam prinsip waktu “. Lebih lanjut Krishna menjelaskan bahwa; setiap manusia dapat memilih tindakan tetapi hasilnya  tergantung proses Waktu. Untuk ini bisa kita lihat sehari hari orang jahat kadang umurnya panjang, sedang orang baik umurnya pendek.

Atau orang kaya rumah mewah, harta berlimpah malamnya susah tidur, sedangkan orang pengemis  tidur dipinggir jalan dengan nyenyak. Disini menggambarkan sesuatu tampak dari luar belum tentu sama dengan didalamnya. Jadi mengerti masalah Waktu ( Kala ) yang begitu pelik, sebenarnya menuju  kebebasan dan bukan ketakutan yang selama ini dipikirkan. Waktu bertindak adil tidak memihak siapapun atau apapun, namun karena ego setiap mahluk atau individu merasakan tidak adil. Sering seseorng mengeluh suatu peristiwa duka bertanya, kenapa ini terjadi padaku ?. Waktu selalu menuju keseimbangan alam semesta, sedangkan ulah manusia membuat keseimbangan itu terganggu.

Jadi waktu ( Kala ) adalah Guru yang membimbing melalui pengalaman setiap tindakan mahluk di alam semesta ini. Kadang walaupun tampaknya kecil atau sederhana pasti memberi akibat setiap unsur dialam semesta ini. Inilah Dharma sejati, perang hanyalah symbol berjalannya waktu dimana hasilnya pasti untuk kebaikan seluruh alam semesta ini. Kekuatan waktu ( Kala ) mengikat semua mahluk termasuk para Dewa dan manusia sekalipun, tidak ada yang luput olehnya.

Semoga bermanfaat. 

APAKAH KEKAYAAN MENJAMIN AKAN BAHAGIA ?.

February 14, 2026

Kekayaan ( Artha ) tidak secara otomatis akan menjamin Kebahagiaan, banyak orang kaya, hidupnya tidak tenang. Kekayaan hanyalah salah satu penunjang kehidupan ini. Kebahagiaan  sejati ( Moksha ) adalah bersumber dari Kedamaian Bathin. Bathin yang Damai tidak terpengaruh akan kondisi luar diri, dia ada dalam diri sendiri. Ingat Tri Guna ( Sifat dasar )  ada dalam diri, perlu di keseimbangkan. Sifat dasar itu mempengaruhi watak, prilaku, dan kepribadian setiap manusia.  Cara penyeimbangan itu,  salah satu dengan ‘ Menerima ‘ secara ikhlas apapun yang harus diterima. Kekayaan itu hanyalah berkah, bila diperoleh melalui jalan Dharma ( Kebenaran ), untuk kesejahtraan bersama. Jadi Kekayaan itu sebagai alat, bukan Tujuan, seperti dalam Catur Purusartha (Empat tujuan hidup ) Artha, Kama harus berdasarkan Dharma untuk mencapai Moksha.

Pengendalian Tri Guna sangat penting untuk mengendalikan Sad Ripu ( Enam musuh dalam diri ) antara lain, Keserakahan, Ketamakan, Kesombongan dan lain lain. Kebahagiaan ini juga tergantung pada Tahapan Kehidupan seseorang, misalnya Hidup berumah tangga dengan Vanaprastha atau pertapa maupun lainnya.

Jadi Kekayaan hanyalah salah satu unsur untuk mencapai Kebahagiaan, jauh lebih penting kualitas spiritual dan Kerelaan Hati.

MASA DEPAN MILIK TUHAN.

Kisah Wicitra Wirya putra Dewi Setyawati dengan Raja Sentanu dinobatkan menjadi Raja Astina pengganti ayahnya mendadak jatuh pingsan, muntah darah dan meninggal. Timbul kemarahan Bisma untuk menghancurkan Dewa Surya dengan anak panahnya. Disitulah terjadi dialog antar keduanya, Dewa Surya berkata; “ Bahwa manusia hanya mengetahui masa lalu dan masa kini, masa depan milik Pencipta “, lalu Dewa Surya menghilang. Dengan dialog ini, Bisma mulai sadar bahwa nasib saudaranya Wicitra Wirya sudah di takdirkan demikian. Disamping itu Bisma juga ingat kisah dirinya sendiri dengan Dewi Hamba yang memaksa untuk menikahinya. Bhisma saat itu bersumpah untuk tidak menikah, tetapi karena sudah ‘ memegang tangannya ‘, itu harus menjadi suaminya. Dilema ini menyadarinya, lalu menyuruh Dewi Hamba mencari gurunya Rsi Durwasa untuk penyelesaian masalah itu. Akhirnya Dewi Hamba menemui Rsi Durwasa, setelah ketemu, tanpa memberi jawaban apapun.

Jadi Bismapun tidak mampu menebak masa depan dirinya, dan selalu focus pada saat ini. Masa lalu sudah lewat, hanya sebagai pelajaran.

HIDUP YANG MENGALIR.Kita mengetahui sifat air itu fleksible, bisa berada dalam segala tempatnya, dan selalu mengalir ke tempat yang rendah. Jika terhalang oleh sesuatu dia sendiri mencari jalannya sendiri. Itulah Hukum Karma dan Vairagya ( Ketidak-terikatan ). Begitu sebaiknya menjalani kehidupan ini agar tenang dalam segala kondisi. Bertindak selalu berdasarkan Dharma, tanpa menjadi budak atas Hasilnya ( Karma Yoga ). Prilaku air selalu bergerak ( Karma ) proses yang dinamis bergerak maju tidak terpaku masa lalu. Tidak terikat pada hasil, erat hubungannya dengan Karma phala, bahwa kita akan mendapatkan hanya ‘ APA ‘ milik kita. Kalau bukan, bagaimanapun kerja kerasnya keinginan agar Hasil tidak akan dapat, kita sudah memiliki ‘ jatah ‘ masing masing. Ketidak terikatan ini termasuk juga ‘ Hidup selalu Berubah ‘ mengurangi ketakutan dan penderitaan. Kesemua itu semua berlandaskan Panca Sradha.

KENAPA TAKUT AKAN KEMATIAN ?.

Karena kita hidup ini ingin langgeng, apa lagi hidup saat ini merasa “ Nyaman “, tidak mau berpisah atau hilang. Lain lagi halnya bagi orang yang Menderita, agar segera bebas dari Penderitaan itu. Ingatlah bahwa dunia ini selalu “ Berubah “ tidak Langgeng. Bahwa Kematian bukan akhir, merupakan transisi, siklus Samsara, menuju sang Jiwa ( Atman ) yang abadi. Takut akan Kematian merupakan Emosi manusiawi, alamiah, oleh karena itu sadarilah pemahaman Dharma, Karma, Meditasi, dan lain lain. Dari kesadaran ini kita harus selalu bersiap akan  Kematian yang tidak bisa di duga datangnya. Bagi orang zaman dahulu pergi ke hutan Wanaprastha, mungkin  sekarang dengan selalu berbuat Baik.

Sadarilah bahwa yang Lahir akan Mati, hanya Kematianlah yang Pasti, lainnya tidak ada yang Pasti. Kematian adalah evolusi sepiritual, yang akan mengantarkan pada Kehidupan berikutnya ( Pergantian Tubuh ).

Semoga bermanfaat.

HIDUP SESUAI SUARA HATI

January 16, 2026

Manusia dianggap sebagai mahluk tertinggi di alam ini karena memiliki kecerdasan dan intuisi. Mari kita lihat Burung yang paling pintar, membuat sarang dari awal begitu begitu saja. Lihatlah manusia membuat rumah beragam bentuk. Disamping itu manusia mampu berbuat baik, agar berubah jalan hidupnya kelak. Dengan alasan inilah kita sebaiknya menjalani Hidup sesuai hati nurani. Sastra menyebutkan sesuai Satya Herdaya ( Hati Nurani ) sebagai landasan spiritual ( Moral ) setiap prilaku sesuai ucapan ( Satya Wacana ). Kita percaya ada dimensi lain yang menuntun kita kearah yang benar ( Suara Hati ).

Umumnya kita mengabaikan suara suara itu dengan berbagai kepentingn ( Ego, ketidaktahuan ) maupun alasan lainnya. Hidup sesuai suara hati berarti Hidup sesuai Dharma Pribadi menuju tujuan akhir ( Moksa ). Bagaimana caranya ?, ada banyak cara salah satu dapat dilakukan Keheningan melalui Meditasi, Refleksi diri, mengurangi ego, redam pikiran hal hal duniawi dan lain lain. Dari cara ini diharapkan Suara Hati dan intuisi Ilahi lebih jelas terdengar.

Jadi Hidup Sesuai Hati Nurani merupakan proses mendengarkan bimbingan Ilahi melalui suara Hati Nurani yang murni.

KITA TIDAK BISA MERUBAH TAKDIR.

Takdir sangat erat hubungannya dengan Karma dan Reinkarnasi. Apa yang kita terima dalam kehidupan ini adalah ‘ Akibat ‘ yang lalu. Secara umum sesuatu Takdir atau Kutukan tidak harus ‘ Pasti Begitu ‘ tetapi dapat ‘ Diubah ‘ bukan Takdirnya, tetapi ‘ Rasanya ‘. Ingat kisah Jaya-Wijaya Pengawal Dewa Wishnu yang dikutuk Dewa Catur Kumara. Pengawal itu dikutuk lahir ke dunia, dia minta tolong Dewa Wishnu untuk merubahnya. Dewa Wishnu menolak, karena tidak bisa, hanya ‘ merubah ‘, yaitu 1. Lahir ke dunia 7 kelahiran sebagai Pembantu Wishnu, atau 2. Lahir ke dunia 3 kelahiran bermusuhan dengan Dewa Wishnu. Inilah kisah Rahwana dan Kumba Karna melawan Rama dalam kisah Ramayana. Rahwana memilih yang nomor 2. Karena no.1 terlalu lama.

Bagaimana kalau kita manusia ?, dapat memperingan dengan ‘ merubah ‘ SIKAP, yaitu melakukan Tindakan yang benar, Usaha yang benar ( Catur Purusharta ), dapat mempengaruhi jalan hidup seseorang. Kita memiliki kemampuan dan kehendak di masa kini yang dapat memodifikasi Takdir lebih ringan ( Tapasya, Doa ).

Jadi Takdir tidak sesuatu yang mutlak, tetapi dinamis dengan pilihan yang dijalani  kehidupan saat ini.

HIDUP ADALAH BELAJAR.

Secara spiritual ‘ Hidup ini adalah suatu Perjalanan ‘ yang kita tidak tahu kapan akan berakhir. Ada yang menganggap singkat ( Mampir Ngombe ), ada yang menganggap panjang tanpa akhir ( Siklus Samsara ). Jadi pendapat keduanya membawa konsekuensi berbeda. Bagi yang menganggap singkat ‘ Waktu jangan disia siakan ‘, bagi yang ‘ Berulang ‘, hidup tidak ada akhirnya, Kematian dan Kelahiran adalah ‘ Pergantian ‘ Baju ‘. Apapun pandangannya mempunyai ‘ Kesamaan ‘ proses yaitu Hidup adalah belajar, berkelanjutan. Baik saat berbahagia maupun menderita, mencari Kebenaran spiritual. Belajar disini dimaksudkan belajar ‘ Mandiri ; kita tidak bisa bergantung kepada siapapun kecuali, diri sendiri.

Jadi Hidup adalah Perjalanan, selalu membuka Pikiran, merenungkan Pengalaman, dan terus belajar dari kehidupan sehari hari, setiap hari menawarkan Kesempatan untuk pertumbuhan spiritual menuju Penyatuan dengan Brahman.

 APAKAH DUNIA INI ADIL ?.

Banyak dari kita suka mengeluh, melihat orang lain hidupnya santai tetapi berkecukupan, sedangkan dia sendiri, pontang panting bekerja, hidup tetap susah. Apakah ini adil ?. Apakah Tuhan tidak adil ?. Tuhan Maha Adil, manusianya saja terpokus pada dirinya sendiri ( Egois ). Hanya melihat dari satu sisi misalnya ‘ Materi ‘ tidak secara keseluruhan, seperti perasaan, kesehatan, kesadaran, dll. Memang kita suka melihat keluar ( Sawang-sinawang ), disinilah diperlukan kesadaran semesta. Hidup ini adil, karena dipercayai ada Hukum  Karma dan Dharma. Dari sudut pandang Reinkarnasi, Keadilan tidak dipandang hanya dalam satu kehidupan, tetapi berulang sampai Moksa.

Dharma memiliki arti luas dan universal, kewajiban, moralitas, etika, berbeda bagi setiap individu tergantung profesinya. Dalam Hukum Pisik, peran Penguasa dan Hakim sangat menentukan, bila dia tidak adil, dia sendiri bertanggung jawab ( Gusti ora sare ). Jadi peran setiap individu dipandang dari sudut ini adalah krusial, tidak ada campur eksternal yang mempengaruhinya.

Semoga bermanfaat.

SAWANG-SINAWANG JALAN SUNYI MENUJU PASRAH.

January 1, 2026

Hati ini sering bertanya, Kenapa hidupku tidak seperti orang lain ?. Pertanyaan itu bukan memerlukan jawaban, tetapi sebagai awal kedewasaan batin. Dari sini kita akan menyelami hidup yang sebenarnya, yang cocok dengan diri kita. Melalui membanding bandingkan hidup dengan orang lain, dapat melukai hidup kita sendiri. Sebab sejatinya hidup itu Sawang-Sinawang ( Saling melihat ), dari sini kita menilai hidup orang lain, lalu membandingkan dengan diri sendiri. Sedihnya, kalau membandingkan dengan yang lebih baik, timbul rasa iri maupun negatif lainnya. Sebenarnya kita tidak pernah tahu secara pasti apa yang sebenarnya terjadi dibalik itu.

Kita sebenarnya mempunyai jalan masing masing untuk dijalani, karena selalu melihat keluar, kita lupa dengan jalan sendiri. Kita tahu jalan itu menuju lautan yang sama tetapi tidak sadar menganggap sungai kita, agar sama dengan orang lain. Disinilah kesadaran diperlukan bahwa kita memiliki jalur sendiri, yang telah disetujui bersama Pencipta sebelum terlahir ke dunia ini. Itupun telah menyetujui ‘ Bekal ‘ termasuk ‘ Takdir ‘nya nanti saat kembali. Termasuk dimana akan lahir, siapa orang tua, anak cucu nantinya juga lingkungan lainnya. Tidak ketinggalan pendamping spiritual yang memberikan arah menuju jalan yang benar.

Setelah terlahir di dunia fana ini, ilusi pikiran lupa atau Avidya atas kebenaran sejatinya. Oleh karena itu timbul ajaran agama beserta Guru guru spiritual sebagai pengingat sejati dirinya. Dari sini kesadaran jati diri, dibangkitkan sehingga mampu Pasrah menerima kenyataan hidup. Kesadaran ini mengajarkan kita agar focus pada proses perjalanan sendiri tanpa melirik perjalanan orang lain. Kita harus menerima secara ihklas tanpa penolakan yang tidak beralasan. Alur perjalanan saat ini atas konsekuensi perbuatan hari ini dan akumulasi perbuatan sebelumnya. Memang tidak dipungkiri harapan maupun keinginan setiap manusia hidup yang sempurna.

Kesempurnaan tidak akan ditemukan, lalu beralih ke Kebahagiaan, dengan cara apapun. Banyak orang mencarinya diluar diri baik dengan mengeluarkan biaya maupun tenaga yang besar. Pada hal yang dicarinya bukan Kebahagiaan tetapi hidup yang tenang dalam segala situasi. Kapan hidup itu tenang ?, bukan karena memiliki, bukan saat zona nyaman, letaknya tidak jauh, hanya pada diri sendiri. Tenang bukan keberuntungan yang tiba tiba, tetapi berkat keputusan sendiri melalui usaha yang sadar.

Perbedaan antara bahagia dengan tenang, dimana Bahagia itu bisa datang dan pergi, tergantung kondisinya. Sedangkan Tenang, akan tetap sama walaupun kondisi berubah. Misalnya suatu Nachkoda Kapal, sedang berlayar di tengah lautan luas, baik kondisi laut tenang, maupun badai dahsyat sama saja. Inilah idaman semua orang, namun banyak orang yang tidak menyadari. Untuk dapat tenang dalam segala kondisi, kita harus mengalami sendiri. Kita tidak dapat belajar dari buku  buku, atau ceritra kisah kisah orang lain, kita harus praktek langsung. Latihan ini merupakan latihan seumur hidup, yang akan kita temui dalam kehidupan sehari hari.

Menjaga konsistensi inilah usaha yang berat, kadang kadang membosankan. Tenang tidak menuntut yang  sempurna, bila suatu saat hilang, secara sadar kembali menuju latihan yang benar. Belajarlah menuju jalan pulang atau tenang, bila suatu saat kita tersesat. Latihan sederhana dapat dimulai dengan duduk tenang, rileks, perhatikan nafas masuk-keluar, tersenyum dan lain lain. Saat latihan pikiran berkelana kemana mana biarkan saja. Jangan dilawan, ikuti saja sambil tetap sadar memperhatikan nafas masuk dan keluar.

Dari latihan sederhana ini, lambat laun akan berkembang spiritual, yang menyadari hidup ini. Ternyata seperti itulah sebenarnya hidup ini, segala sesuatu datang dan pergi. Dari pengalaman ini akan membangkitkan rasa Pasrah setiap kondisi yang terjadi di dunia ini.

Demikianlah bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari kaca mata kita, nilai saja kemajuan diri sendiri setiap momen kehidupan.

Semoga bermanfaat. 

KISAH SUP BATU.

December 30, 2025

Seorang Pengelana yang cerdas dan bijaksana melakukan perjalanan suci ( Tirta Yatra ) mengunjungi tempat tempat suci untuk ritual tertentu. Dia sudah berbulan bulan melakukan perjalanan, selalu saja ada orang yang baik hati memberi makanan atau minuman saat diperlukan. Dia melakukan disiplin yang ketat sesuai ajaran agama tidak pernah dilanggarnya. Dia sudah terbiasa menahan haus maupun lapar jika daerah yang dikunjungi tidak memungkinkan. Suatu ketika, Dia melewati suatu Desa kecil yang terbiasa membantu Pengelana yang kehausan maupun kelaparan membantunya.

Pengelana berkata dalam hatinya; “ Apakah ada seseorang yang baik hati, memberikan sesuatu kepadanya ? “ . Kebetulan rumah yang dilewati itu adalah rumah sederhana lalu mengetuk pintunya. Setelah dibukakan, ternyata seorang Janda Tua yang miskin terlihat lalu dia berkata; “ Aku seorang Pengelana, kelelahan yang telah lama berjalan “. Janda Tua langsung mengerti maksud Pengelana itu yaitu untuk bersedekah makan atau minum. Janda Tua berkata; “ Maaf Tuan, tidak ada yang dapat saya berikan, kami hanya memiliki sedikit air minum “. Pengelana melanjutkan; “ Tidak apa apa, terima kasih “. Pengelana dengan gembira menerima dengan berkata; “ Saya dapat membuat Sup Batu dengan air itu “.

Janda Tua kaget mendengar jawaban Pengelana itu sambil bingung, menunjukan dapurnya. Pengelana menyiapkan tungku perapian untuk memasak air, panci yang diisi air. Begitu Pengelana memasak air setelah mendidih mengeluarkan “ Batu “ dari sakunya untuk dimasak. Begitu sibuknya Pengelana memasak Batu, Janda Tua menyelinap keluar rumah menuju tetangga, menyampaikan keanehan itu. Tetangga kaget dan tidak percaya lalu berdatangan membawa sayur sayuran. Ada yang membawa wortel, buncis, bawang goreng, kentang dan lain lain.

Karena makin banyak warga Desa yang tidak percaya tentang seorang Pengelana bisa membuat Sup Batu beramai ramai membantunya, akhirnya terjadilah suatu Pesta Desa yang riang gembira. Ada yang membawa nasi, lauk pauk seadanya yang dimiliki dirumah masing masing. Mulai saat itu rumah Janda yang miskin itu terkenal keseluruh Desa. Pesta yang sederhana yang mengesankan bagi penduduk yang rata rata jarang terhibur. Inilah hiburan sederhana yang mengesankan.

Setiap orang dapat membuat Perbedaan, walaupun sederhana, tidak perlu yang istimewa. Pengelana itu dapat mengambil langkah sederhana untuk menghibur masyarakat Desa yang masih haus akan hiburan. Penduduk Desa sementara dapat melupakan kesulitan, kesedihan maupun derita lainnya. Dalam keramaian itu juga dapat melibatkan anak anak, orang dewasa maupun orang tua tua. Timbul kerja sama yang baik diantara warga Desa tanpa memandang status social maupun perbedaan lainnya.

Dari peristiwa ini Desa itu menjadi terkenal saling membantu, jika ada warga yang kekurangan. Dari Pesta yang sederhana itu lalu berkembang lebih luas menjadi mengurus orang sakit, koperasi, maupun kegiatan lainnya. Desa itu lambat laun menjadi percontohan untuk desa desa lainnya.

Untuk berlanjutnya suatu organisasi social sedikit banyaknya tergantung dari Pemimpinnya. Secara umum Pemimpin organisasi social paling sedikit memiliki; Kombinasi Integritas Pribadi, Ketrampilan Kepemimpinan, dan orientasi kuat atas misi social. Memimpin organisasi social tidak sama dengan organisasi lainnya misalnya organisasi bisnis atau perusahaan. Pemimpin mengerti dan jelas akan visi dan misi organisasi sehingga dapat bertahan lama dan dirasakan manfaatnya oleh para anggotanya. Disamping itu memiliki kemampuan komunikasi dan mendengar keluhan anggotanya.

Tidak kalah pentingnya manajemen waktu dan sumber daya karena umumnya Pemimpin tidak memperoleh Gaji yang memuaskan hanya untuk keuntungan masyarakat luas. Mungkin syarat lainnya masih banyak disini hanya disebutkan garis besarnya saja dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

Semoga dapat menginspirasi.

PERANAN PIKIRAN DALAM DHARMA.

December 16, 2025

SESUNGGUHNYA PIKIRAN PERAN UTAMA.

“ Mata dapat melihat berbagai barang, telinga dapat mendengar nada nada…… sesungguhnya  pikiranlah yang memegang peranan utama “ ( SS-82 ).

Mari lihat contoh fiksi ekstrem ini; Kisah seorang Ibu punya 2 orang anak laki laki bekerja sebagai petani dan peternak di Tibet. Mereka selalu menjual hasil pertanian dan peternakannya ke daerah India. Suatu ketika, ibunya berpesan nanti kembalinya bawakan Ibu Gigi Budha ya nak ?, pintanya ( Konon saat Kremasi sang Budha giginya tidak jadi abu ). Setelah laku semua jualannya, kedua anaknya kesana kemari setiap Wihara dan Kuil tidak berhasil mendapatkannya. Terpaksa pulang karena sudah lama, lalu di tengah jalan menemukan bangkai Srigala, dimana giginya masih utuh mirip gigi manusia. Mereka sepakat mengambil Gigi itu, dibersihkan, dibungkus kain sutra, dibelikan kotak indah bak cincin pertunangan. Sesampai dirumah dihadiahkan kepada Ibunya, ibunya sangat senang dan gembira mendapatkan seperti cita citanya yang terdalam. Ibunya menaruh dimuka Patung Budha, setiap hari berdoa di Patung itu. Suatu siang anaknya pulang dari kebun melihat Ibunya berdoa didepan Budha yang ada Gigi Srigala itu. Anaknya baru berterus terang bahwa Gigi itu bukan Gigi Budha tetapi Gigi Srigala. Ibunya menjawab ; “ Tidak masalah apakah  itu Gigi Cicak, Gigi Srigala, Nak, Ibu telah bahagia dan puas “. Begitulah konsep Pikiran.

DHARMA JALAN MENUJU PEMBEBASAN.

Pengertian Sorga ( Svarga ) adalah  sementara tempat Jiwa menikmati Karma baik, tujuan tertinggi adalah Moksha. Tujuan ini dapat tercapai melalui praktek Dharma ( Kebenaran/kewajiban ) dan Yoga ( Jalan Spiritual ). Sorga masih merupakan siklus reinkarnasi bukan tujuan akhir. Dharma sebagai jalan melalui Hukum Moral, Kewajaban Perilaku yang benar dalam lingkungan alam semesta. Dengan melaksanakan Dharma sebagai kunci kebahagiaan dan pembebasan, disamping jalan spiritual ( Yoga ). Yoga yang sering dilakukan seperti Karma, Bhakti dan Jnana Yoga. Moksha adalah tujuan akhir dari siklus reinkarnasi, penyatuan dengan Brahman.

Jadi menuju Pembebasan ini melalui penghayatan Dharma secara benar.

   DHARMA SEBAGAI PELINDUNG.

“ Dharma merupakan perlindungan orang yang berilmu, tegasnya hanya Dharma yang dapat melebur dosa Tri Loka ( Jagad Tiga ( SS-18 ) “. Secara umum kita mengenal Pertobatan, Pengabdian, Praktek Dharma, Penyucian Diri, dan lain lain, dipakai sebagai Penebusan Dosa. Juga disebutkan Dosa berat ( Himsa ) memerlukan waktu lebih berat dari dosa lainnya. Caranya yang dipraktekan dengan mengakui dan melakukan penebusan ( Prayascita ) tidak akan mengulangi lagi. Cara lain dengan Pengabdian ( Bhakti ) seperti contoh contoh dalam kisah Ramayana dan Mahabharata. Cara lain lagi Praktek Dharma sehari hari seperti Kejujuran, Kebaikan, Cinta kasih, Berdherma, Memaafkan, Tersenyum tulus, dan lain lain. Lebih berat lagi melakukan Tapa-Brata ( Jnana ) bagi orang orang suci dalam cerita cerita agama. Pengertian Dosa menurut Hindu mungkin sedikit berbeda dengan agama lain.

  ORANG YANG TERPUJI.

Dalam Hindu tidak ada pengertian tokoh sentral seperti Nabi dalam agama lain. Sebaliknya keterpujian seseorang diukur dari tingkah laku, etika-moralitas, dan kesetiaan terhadap ajaran Dharma. Istilah yang digunakan bagi seseorang suci atau tingkat spiritual tinggi seperti; 1. Orang Sadhu, orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya dalam peningkatan spiritual untuk mencapai Pembebasan dari Reinkarnasi ( Moksha ). 2. Dwi Jati dan Eka Jati, yaitu orang yang status tertinggi melalui rangkain upacara Penyucian memungkinkan mereka memimpin upacara keagamaan. 3. Resi atau orang bijak, Penerima Wahyu, dimana tingkah laku mereka baik dan terpuji.

Kesimpulannya, orang terpuji adalah orang yang Susila dimana tingkah lakunya sesuai Dharma, melakukan Subhakarma, Sifat Satwam dan tidak egois suka melakukan Pelayanan bagi semua umat manusia.

Demikianlah beberapa catatan kehidupan yang kami rasakan selama ini, semoga bermanfaat.

RENUNGAN KEHIDUPAN

December 11, 2025

Bersama ini disajikan beberapa hasil renungan secara sederhana untuk dipikirkan lebih lanjut seperti;

  1. KAPAN KITA MERASA CUKUP ?.

Yang dimaksud ” Cukup “ ( Kepuasaan ) dalam Yoga Sutra Patanjali dijelaskan dalam Niyama ( Disiplin Diri atau Observasi )  yaitu Perasaan yang muncul ketika seseorang Menerima apa yang dimiliki saat ini. Menerima disini bukan berarti pasif, tetapi ikhlas menerima hasil usaha yang telah dilakukan tanpa keinginan berlebihan ( Ketamakan ). Orang yang demikian biasanya focus pada kepuasaan sepiritual bukan masalah duniawi. Mereka mengutamakan Kedamaian Bathin dan Ketenangan Jiwa ( Atman ) dalam dunia yang penuh glamor saat ini. Mereka mengembangkan sikap ‘ Ketidak-terikatan ( Vairagya ) dimana kesenangan duniawi itu hanya bersifat sementara dan tidak kekal. Mereka melakukan kewajiban ( Dharma ) secara benar, dengan melepaskan keinginan ( Ego ) mencapai kepuasan pribadi.

Jadi kapan kita merasa cukup saat kita mencapai Kepuasaan ( Santhosa ) pribadi berasal dari dalam diri atas kesadaran spiritual.

  • TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR.

Ungkapan “ Gusti Ora Sare “ sudah popular saat ini, mari kita simak dari sudut sepiritual, apa maknanya ?. Bahwa Tuhan selalu hadir ( Berkesadaran ) untuk menjaga keberadaan ciptaanya. Konsep ini terkait dengan Tuhan sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pelebur (Brahma, Wishnu dan Ciwa ). Ada yang menganggap bahwa konsep ini suatu kesadaran ilahi yang tidak pernah terlelap. Konsep ini juga mengajarkan kita bahwa Tuhan selalu berada dalam diri mahluknya untuk membimbing ketujuan yang benar. Oleh karena ketidak-tahuan ( Avidya ) kita terlepas dari keterhubungan itu ( Atman-Brahman ). Dalam keadaan “ Tertidur “ ada mimpi, itu berarti kesadaran pisik ( Rendah ) beralih kepada Kesadaran lebih halus, sementara tertinggi ( Atman ) tetap terjaga. Dengan demikian Tuhan selalu berada didalam diri ciptaannya tidak pernah meninggalkan mereka.

  • SEKILAS TENTANG MULAT SARIRA.

Ditinjau dari segi sepiritual yang dimaksud Mulat Sarira adalah ajaran tentang Introspeksi diri, secara jujur mengenali memahami, memperbaiki kesalahan serta mengembangkan potensi diri sendiri. Bertujuan untuk  mencapai keselarasan Bathin dalam mengembangkanTri Hita Karana dan Kebahagian sejati. Secara singkat Berani melihat Diri apa adanya, untuk menemukan ketenangan berhubungan dengan Tuhan dan Alam Semesta ini. Mengenali disini secara mendalam bukan hanya pisik juga pokiran, perkataan dan perbuatan yang benar. Pengertian introspeksi ini mengendalikan ego negative, berpikir sebelum berkata atau bertindak, agar sejalan dengan Dharma. Dengan demikian dapat menemukan Kedamaian Bathin sebagai tujuan utama. Dengan jalan ini dapat mengurangi kekotoran Batin menemukan Diri Sejati ( Atman ) menjadi manusia yang luhur.

  • SEGALA SESUATU BERSIFAT SEMENTARA.

Dunia material atau realitas fisik yang kita alami semuanya ilusi pikiran ( Maya ). Mereka bukan tidak ada tetapi selalu berubah ubah ( tidak tetap ). Kebenaran tertinggi hanyalah Tuhan ( Brahman ), segala sesuatu yang diciptakan adalah Maya akan hancur. Ini juga termasuk dalam konsep Kelahiran Kembali setelah kematian ( Reinkarnasi ) . baik kesenangan, kebahagian, maupun penderitaan bersifat fana dimana tujuan akhir adalah Moksa. Jadi satu satunya yang konstan adalah Perubahan itu sendiri, seperti tubuh fisik, kekayaan, status social , dll, selalu berubah, tunduk pada Waktu ( Kala ). Satu satunya yang bersifat abadi yaitu Brahman atau Atman ( Reakitas Jati diri sejati ).

  • JANGAN BIARKAN WAKTU BERLALU TANPA GUNA.

Manfaatkanlah waktu secara Bijak, karena Waktu ( Kala ) sering dimanifestasikan sebagai Sanghyang Kala ( Putra Ciwa ). Dalam mitos mitos itu digambarkan, bagaimana kehebatan Betara Kala melahap segala sesuatu tanpa ampun. Jadi waktu itu merupakan ‘Asset ‘ berharga dalam perjalanan hidup ini. Bila ditinjau dari waktu ( Yuga ) dimana sekarang zaman Kali Yuga, waktu hidup kita terlalu singkat atau pendek ( Hanya ciplakan Barong, Bhs. Bali ). Manfaatkanlah sebaik baiknya dimana sehubungan dengan Catur Purusharta ( Dharma, Artha, Kama, dan Moksa ). Dari segi Hukum Karma kita selalu harus berbuat Baik agar setelah Reinkarnasi lahir lebih baik lagi. Oleh karena itu pentingnya melakukan Sadhana ( Yoga, meditasi, doa, dan ritual keagamaan ). Jadi disinilah pentingnya mengingatkan akan sifat Waktu yang singkat itu agar jangan disia siakan apa lagi saat masih aktif (Muda ).

Demikianlah renungan sederhana semoga bermanfaat.

Design a site like this with WordPress.com
Get started