Skip to content

HATI NURANI SEBAGAI NAKHODA KEHIDUPAN.

August 19, 2017

Dalam rangka peringatan 17 Agustus 2017 yang lalu ada momen-momen yang ‘ lain ‘ dari pada biasanya. Diistana Negara dirayakan dengan amat meriah dimana para undangan diharuskan memakai pakaian adat daerah yang ada di Indonesia. Apa lagi ada difoto Mantan-mantan Presiden yang pernah berkuasa berfoto bersama dengan senyum gembira. Anehnya di kelompok lain ada upacara 17 Agustusan ( Universitas Bung Karno ) juga dilakukan acara yang sama yang diikuti oleh kelompok tertentu. Kelompok ini dalam foto mengenakan jas lengkap dan ada pula yang berbaju batik. Anehnya para wartawan memfoto kelompok ini dengan senyum yang dipaksakan, boleh dibilang ‘ nyinyir ‘. Berita-berita Media banyak membanding-bandingkan, memberi komentar kedua momen ini. Malah ada yang postingan dalam satu foto untuk kedua momen ini.

Marilah kita tinjau kedua ini dari segi ‘ hati nurani ‘ setiap manusia pada umumnya. Jika dilihat secara teliti dari kedua ‘ foto ‘ yang disandingkan itu ada perbedaan yang menyolok. Satu foto dengan ‘ hati ‘ yang tulus, satu lagi dengan ‘ hati ‘ yang terbebani, itu bisa dibaca oleh orang luar yang melihatnya. Kualitas tindakan kita akan sedikit banyak tergantung dari kualitas kehidupan kita. Kalau kehidupan kita selalu merasa tertekan maka kita tidak akan mampu mengajak orang lain ‘ bebas ‘ dari suatu tekanan. Jadi ada kaitan antara ‘ perbuatan ‘ dan ‘ kehidupan ‘ kita yang dialami saat ini. Inilah salah satu penyebab dimana kedua foto dibahas bermacam-macam oleh yang melihatnya.

Orang yang berbahagia ( Tersenyum ) saat di foto mencerminkan pada orang itu berada ‘ dijalan ‘ yang tepat disetiap momen. Begitu pula sebaliknya ‘ muka ‘ asam dalam foto mencerminkan banyak masalah dalam setiap momen kehidupan ini. Itulah yang disebut ‘ perangkap perasaan ‘ akan terpancar keluar dari diri kita. Berbicara mengenai ‘ perasaan hati ‘ banyak macamnya dan banyak factor yang mempengaruhinya. Sebagai contoh; perasaan sebagi orang tua dan anak, antara suami dan istri, antar teman dlsb, semua itu membuat bingung dan menderita. Jadi kita sebagian besar terperangkap perasaan, baik yang ‘ bahagia ‘ maupun yang ‘ menderita ‘. Untuk menghindari tersesat dan jatuh dari ‘ kemelekatan perasaan ‘ ini, kita harus selalu memiliki ‘ kesadaran ‘ dan tercerahkan dalam mengerti jalannya kehidupan ini. Ubahlah duka, kecewa, penderitaan menjadi kekuatan yang positif, seperti anggaplah semua orang tua/anak/perempuan adalah orang tua/anak/perempuan sendiri. Dengan cara ini kita tidak akan berlama-lama terperangkap dalam belenggu pikiran yang sempit. Dengan pikiran yang luas akan membebaskan diri kita dari tekanan penderitaan, itulah terpancar keluar diri kita.

Hati nurani kita agar seperti ‘ rembulan ‘ yang bersinar terang dan sangat lembut dan menyejukkan. Dengan ‘cahaya ‘ yang terang itu membuat orang melihat kondisi kita dengan sangat jelas. Cahaya ini adalah ‘ cahaya kebijaksanaan ‘ yang membuat orang lain terpengaruh olehnya. Cahaya ini mampu menerangi segala tempat baik yang indah maupun yang buruk atau kotor. Dibawah sinar bulan yang indah, semua terlihat cantik, baik maupun jelek akan terlihat mempesona.

Kesimpulannya; Jika kita memandang setiap orang dengan ‘ hati nurani ‘ yang baik maka setiap orang adalah orang baik. Dengan hati yang baik tidak membedakan kekayaan, status social seseorang semua dipandang setara. Orang miskin, orang kaya, atau dengan kedudukan rendah semua diperlakukan dengan penuh rasa cinta kasih dan welas asih. Inilah hati nurani yang indah menjadi nakhoda dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

PENGABDIAN KEPADA ORANG TUA.

August 10, 2017

Rsi Pippala adalah putra Rsi Kasyapa yang dapat anugrah para Dewa atas keteguhan hatinya melalui tapa yang berat sekali. Lama tapa yang dilakukan sekitar 3.000 tahun telah melewati banyak godaan yang berhasil dikalahkan. Akhirnya para Dewa memberikan anugrah atas permintaannya yaitu; Menginginkan kekuatan yang membuat segala benda dan mahluk pada alam semesta ini mengikuti kehendaknya.

Dengan berkat yang istimewa itu Rsi Pippala menjadi sombong dan bangga atas kemampuannya yang luar biasa itu. Pada suatu hari saat bersemadi disuatu telaga yang indah dengan bunga tunjung sedang mekar bertengger seekor burung Bangau. Bangau ini dapat berbicara dengan manusia dan mampu membaca pikiran Rsi Pippala. Bangau berkata: “ Mengapa engkau begitu bangga dengan kemampuan dirimu ?. Engkau tidak lain hanyalah seorang yang bodoh ! “. Rsi Pippala kaget mendengar kata itu dan menghentikan meditasinya. Ternyata dilihatnya seekor burung Bangau bertengger di daun Tunjung yang sedang mekar itu. Rsi Pippala berkata: “ Siapakah sebenarnya engkau ?. Apakah engkau Brahma, Wishnu atau Ciwa ? “. Burung Bangau menjawab: “ Kenapa engkau tidak menanyakan saja siapa diriku kepada Sukarma ?” Rsi Pippala bertanya: “ Dimana tempat Sukarma yang kau maksudkan itu ? “. Setelah ditunjukan tempat tinggal Sukarma, burung Bangau segera lenyap. Rsi Pippala berangkat menuju tempat yang ditunjukan oleh burung Bangau tadi.

Ternyata tempat yang ditunjuk itu adalah pondok Rsi Kundala bersama istrinya didampingi oleh anaknya bernama Sukarma. Dia menghabiskan waktunya sehari-hari melayani kebutuhan orang tuanya yang telah usur itu. Dia telah berketetapan hati bahwa itulah swadharma yang merupakan tujuan hidupnya. Sukarma menyambut dengan penuh hormat kedatangan Rsi Pippala dan berkata: “ Sungguh kehormatan yang tak terhingga kami didatangi seorang tamu yang terhormat. Siapakah gerangan anda, kalau dilihat sepintas seperti seorang Maha Rsi, ampunkan hamba ? “. Rsi Pippala menyaut: “ Saya adalah Rsi Pippala anak Rsi Kasyapa, ingin menanyakan sesuatu “. Sukarma menjawab dengan rendah hati: “ Ampun Rsi, hamba orang biasa mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan Rsi. Kalau boleh tahu, apa pertanyaan Rsi ? “. Rsi Pippala berkata: “ Saat saya bermeditasi ada seekor burung Bangau menyatakan sesuatu, dan disarankan kesini untuk lebih jelasnya “.

Sukarma menjadi bingung, karena pekerjaanya sehari-hari hanya mengurus kedua orang tuanya saja. Berkata sbb: “ Maafkan hamba orang bodoh, tidak pernah belajar Weda, tidak pernah melakukan Tirta Yatra, berjapa, tapa yang kuat, beryadnya dll, sesuai kewajiban orang suci “. Tidak disangka-sangka saat itu turun para Dewa didepannya dan berkata: “ Apa gunanya, tapasya, berpunya, beryadnya, tirta yatra tidak melayani orang tuanya. Melayani kedua orang tua yang sudah usur jauh lebih mulia dari itu “.

Kebijaksanaan; Menempuh kehidupan Grhasata merupakan inti dari semua tingkat kehidupan dalam ‘ Catur Asrama ‘. Tahapan ini merupakan ‘ ujian ‘ yang nyata setelah menempuh tingkatan Brahmacharya asrama. Karena suatu ujian jadi keadaan inilah yang dianggap paling sulit dalam menempuh kehidupan ini. Sulitnya karena masa ini ada tambahan untuk berkeluarga, dengan tanggung jawab bukan saja memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Kebutuhan yang lebih penting yaitu mengayomi, membimbing keluarga kearah sesuai dengan tujuan kehidupan spiritual. Masa ini keseimbangan, kestabilan emosi, material, spiritual diuji dengan amat dahsyatnya. Banyak dari kita mengalami kegagalan atas ujian ini sehingga menimbulkan kemunduran spiritual yang akut.

Ciri seorang Grhasta adalah kemauan dan kemampuan untuk mandiri menjalani swadharmanya. Pada hakekatnya swadharma saat ini, adalah kesempataan suatu yadnya kepada para leluhurnya untuk menjelma kembali. Umumnya banyak kesulitan yang ditemui masa ini dalam menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rochani, apa lagi situasi modern ini. Kehidupan material sangat menonjol dan kehidupan spiritual semakin merosot. Pendidikan agama, budi pekerti, maupun olah mental sangat diperlukan dalam situasi seperti ini. Disamping peranan keluarga, lingkungan, pemerintah juga diperlukan ikut campur tangan secara maksimal.

GELISAH.

July 30, 2017

Akibat pemerintah mengeluarkan 2 Perppu, ada pihak-pihak yang gelisah, memungkinkan tidak tercapai maksudnya. Banyak komentar-komentar ada yang mendukung dan ada pula yang menolaknya. Apalagi sampai-sampai ada pertemuan 2 Jendral yang terkenal membahas Perppu tsb. Kegelisahan ini membuat situasi politik menjelang Pilpres 2019 mulai memanas. Strategi-strategi mulai dipikirkan untuk memenangkan pertarungan dalam pemilihan nantinya. Disini tidak mengulas masalah politik, hanyalah sebagai ilustrasi  saja sehubungan dengan kegelisahan itu sbb:

Didalam sebuah hutan, hiduplah seekor ‘ Kancil ‘ yang mengetahui bahwa Raja Hutan Singa suka memburu dagingnya untuk dimakan. Kancil mengetahui bahwa ‘ rasa gelisah ‘ mampu membuat seseorang membunuhnya. Kancil mempunyai teman baik yaitu, Kuda, Tikus, Gajah dan Beruang. Kesemua teman-temannya itu selalu khawatir dengan ulah Sang Singa menyarap binatang dihutan itu.  Pada suatu hari Kancil ingin mengajari ‘ ilmu ‘nya itu kepada teman-temannya agar terhindar dari serangan musuh. Tetapi Kancil kepada teman-temannya berpesan agar jangan mengetahui tiorinya saja, praktekanlah dalam kehidupan sehari-hari.

Saat pemberian pelajaran itu tiba-tiba muncul seekor Raja Hutan Singa yang bertubuh kekar dan galak. Teman-temannya menjadi gemetaran, kecuali Sang Kancil yang tenang sambil meneruskan ceramahnya. Lalu menghampiri Sang Singa sbb: “ Aku hendak memohon sesuatu “. Sang Singa: “ Apa permohonan kamu ? “. Sang Kancil: “ Jaminlah para hewan dihutan ini tidak menjadi sarapanmu “. Sang Singa berpura-pura menyetujuinya dan berkata: “ Aku adalah Raja Hutan yang baik hati, adil dan bijaksana, aku berjanji menjaga keamananmu  “. Setelah mendengar persetujuan itu Sang Kancil berkata kepada teman-temannya sbb: “ Teman-teman kita telah mendapatkan persetujuan dari Raja Hutan bahwa kita aman hidup dihutan ini. Sebenarnya kita dapat membunuhnya dengan mudah, untuk jangka waktu 1 bulan  “. Raja Singa mendengar sayup-sayup suara sang Kancil lalu mendekat untuk memastikannya. Raja Singa: “ Apa kamu sang Kancil bilang tadi ? “. Sang Kancil mengulang kata-katanya sbb: “ Sebenarnya aku mampu membunuhmu dalam waktu 1 bulan “. Raja Singa menyahut sambil tertawa mengejek: “ Ah !, jangan bercanda dan sombong mana mungkin “. Sang Kancil meneruskan: “ Aku punya ilmu ‘ gaib ‘ yang ampuh, sanggup membunuhmu dalam sekejap tetapi aku harap sebulan saja “. Sang Singa menimpali: “ Aku setuju, tetapi jika dalam sebulan aku tidak mati engkau akan kumakan sampai bulu-bulumu “. Sambil ngloyor sang Singa tidak menanggapi serius kata-kata sang Kancil itu lalu pergi.

Semua teman-teman sang Kancil gemetaran mendengar kata-kata Raja Hutan itu dengan ketakutan yang amat sangat. “ Tenang saja, kita tetap memperdalam ‘ ilmu gaib ‘ yang akan aku ajarkan untuk terhindar dari serangan musuh “, Kata Sang Kancil. Dalam seminggu Sang Singa masih melupakan ancaman Sang Kancil itu dengan tenangnya. Setelah sekitar 10 harian, tepat saat istirahat santai terbetik dalam pikirannya ancaman sang Kancil tsb. Makin hari bisikan ‘ hati ‘nya semakin kuat tentang ‘ datangnya kematian ‘ dari ilmu gaib sang Kancil. Sewaktu tidurpun terngiang ditelinga Sang Singa ancaman itu yang sanggup membunuhnya dalam waktu sebulan. Makin lama keyakinan datangnya kematian itu makin menjadi kenyataannya.

Sang Kancil tetap melakukan kewajibannya menerangkan cara-cara menghindari dari sergapan musuh. Raja Hutan sang Singa mengetahui bahwa mereka masih tetap memberikan ceramah seperti biasanya. Walaupun demikian perasaan hatinya mulai mempercayai ‘ ilmu gaib ‘ sang Kancil sehingga tidak bisa tidur, tidak enak makan. Selalu terngiang ‘ kematian ‘ yang akan datang yang pasti terjadi. Perasaan itu makin lama makin keras akhirnya mendekati satu bulan akhirnya Sang Singa tergeletak tidak sadarkan diri didalam goanya. Dia telah terbunuh oleh rasa khawatir yang mendalam, rasa takut yang memuncak, kesedihan yang menimpa dirinya.

Sang Kancil beserta teman-temannya curiga, karena beberapa hari tidak melihat sang Singa berjalan-jalan didekatnya. Akhirnya semua sepakat menengok di goa tempat yang biasa dia tidur. Ternyata diketemukan Sang Singa sudah mati kaku badannya.

Kebijaksanaan yang terkandung;

Walaupun sekuat, segigih apapun mental seseorang kalau sudah dijangkiti perasaan was-was, ketakutan, kekhawatiran yang amat sangat lambat laun ambruk juga. Pada hal Sang Kancil tidak memiliki ‘ ilmu gaib ‘ apapun tetapi dia tahu bahwa sebuah tragedi mampu melumpuhkan musuh sekuat apapun. Kita biasanya melupakan ‘ hidup saat ini ‘, tetapi lebih banyak mengkhawatirkan masa depan yang belum tentu terjadi. Mereka selalu berpikir ‘ bagaimana, jikalau, seandainya ‘ yang selalu berpikir negatif. Melupakan optimisme, keyakinan tentang masa depan, yang semua orang tidak bisa tahu. Hanya musibah saja ada dalam benaknya sehingga selalu diliputi rasa takut.

Disamping mengkhawatirkan masa datang juga selalu menyesali masa lalu yang sudah lewat. Kita tidak dapat memutar kembali kesalahan, kekurangan masa lalu saat ini. Kesalahan masa lalu cukup sebagai pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik. Yang paling logis, adalah sadar akan  kenyataan, lalu menyusun rencana untuk bangkit kembali.

 

PRABU NALA DAN DAMAYANTI.

July 20, 2017

Ceritra ini tercantum dalam seri Mahabharata. Prabu Nala dari kerajaan Nishada adalah seorang Raja yang belum mempunyai permaisuri untuk mendampinginya. Seluruh negeri sampai negeri tetangga mendengar Prabu Nala memerintah dengan bijaksana. Berita ini sampai ketelinga putri Raja Bima dari kerajaan Widharba yang masih belum menikah. Putri Damayanti selalu murung hatinya karena ingin bersuamikan Prabu Nala. Ayahnya Raja Bima mengetahui hal ini lalu mengundang semua raja-raja perjaka untuk mengikuti suatu sayembara untuk memilih suami.

Berita ini sampai ke sorga sehingga para Dewa ingin ikut dalam sayembara itu. Para Dewa yang berkeinginan ialah :  Dewa Indra, Dewa Agni, Dewa Baruna, Dewa Yama. Para Dewa menyuruh Prabu Nala untuk menyampaikan berita tsb, kepada Putri Damayanti untuk memilih salah satu dari mereka. Namun meskipun Damayanti menghormati para Dewa dia bersikukuh agar Prabu Nala, mengikuti sayembara tsb. Para Dewa mengetahui hal itu lalu menyamar menjadi Prabu Nala palsu. Putri Damayanti berdoa dengan khusuk memohon agar ditunjukan jalan dapat memilih Prabu Nala yang asli. Akhirnya terkabul permohonan itu sehingga tepat dapat memilih Prabu Nala asli.

Betara Kala yang terlambat dalam sayembara itu sangat marah ketika mendengar cerita dari para dewa bahwa Putri Damayanti telah memilih Prabu Nala. Betara Kala bersumpah akan menjadi penyebab keruntuhan Prabu Nala dengan cara menjerumuskannya ke jalan yang menyimpang dari jalan kebenaran (dharma).

Nala dan Damayanti hidup ber bahagia selama 12 tahun. Selama itu Betara Kala terus berusaha untuk menjerumuskan Prabu Nala tetapi selalu gagal. Pada suatu ketika Prabu Nala lupa mencuci kakinya ketika akan bersembahyang, sehingga Betara Kala yang tak pernah berhenti membisikkan kejahatan ke dalam hatinya berhasil mempengaruhinya.

Prabu Nala berjudi dengan saudaranya yang bernama Puskara dengan mempertaruhkan seluruh harta dan kerajaaannya. Prabu Nala yang  kalah dalam perjudian itu harus hidup di hutan bersama Putri Damayanti. Dalam pengasingan dihutan, banyak pelajaran hidup didapat dari para pertapa dihutan itu. Disamping itu Prabu Nala pernah menyelamatkan seekor Naga terperangkap dalam kebakaran hutan. Karena suatu kecelakaan ditengah hutan Prabu Nala dan Putri Damayanti berpisah tidak saling bertemu dalam waktu relatif  lama. Saat tersesat itu Damayanti bertemu dengan seorang pemburu yang ingin menolongnya dengan syarat mau dijadikan istrinya. Damayanti dengan sangat marah lalu mengutuknya agar mendapat kecelakaan ditengah hutan.

Dari kecelakaan itu ternyata Prabu Nala kehilangan kedua kakinya dan berganti nama menjadi Bahuka. Walaupun kehilangan kedua kakinya, masih kuat untuk melakukan suatu pekerjaan. Dia menuju suatu kerajaan sekitar hutan itu berjalan kaki sampailah di Kerajaan Koala. Dia mempergunakan keakhliannya yang pernah dimiliki yaitu sebagai kusir kereta. Dia melamar menjadi kusir Raja saat itu yang bernama Rituparna. Pada kesempatan yang sama Damayanti kesasar kedaerah asing yaitu Kerajaan Cedi. Damayanti melamar sebagai ‘ pelayan ‘ istana Raja Cedi yang berkuasa saat itu. Setelah mengetahui Damayanti adalah Putri seorang Raja Widharba maka dipulangkan kembali kepada orang tuanya.

Selama berkumpul dengan keluarganya Putri Damayanti kembali selalu murung hatinya karena masih merindukan Prabu Nala. Ayahnya menyadari hal ini, maka diadakanlah kembali sayembara kedua dengan harapan Prabu Nala mendengar dan mengikuti sayembara tsb. Dari banyak raja-raja yang mengikuti sayembara itu salah satunya Raja Rituparna yang dikusiri oleh Bahuka. Dalam perjalanan itu Bahuka mengajari Raja Rituparna cara-cara mengendalikan kereta, sedangkan Raja Rituparna mengajari Bahuka tehnik bermain judi. Di lokasi sayembara, Putri Damayanti mencurigai Bahuka adalah Prabu Nala sendiri yang menyamar menjadi kusir kereta.

Berdasarkan naluri dan perasaan hati Putri Damayanti mengatakan bahwa ‘ Bahuka ‘ adalah Prabu Nala sendiri dan memilihnya untuk menjadi suaminya. Semenjak itu Prabu Nala dan Putri Damayanti menjadi suami-istri tinggal dikerajaan Putri Damayanti. Timbul niat Prabu Nala menantang saudaranya kembali  yang mengambil kerajaannya dahulu dengan cara bermain judi. Prabu Nala merasa handal atas tehnik berjudi berkat diajari oleh Raja Rituparna. Kakaknyapun bersedia berjudi ulang dengan taruhan yang sama seperti dahulu. Akhir ceritra, perjudian itu dimenangkan oleh Prabu Nala dan kembali memerintah dengan Permaisuri Damayanti secara bijaksana.

Kebijaksanaan yang dipetik dari ceritra diatas:

Nilai etika, dimana Putri Damayanti memiliki cinta sejati kepada Prabu Nala walaupun dalam keadaan tanpa kaki dan pekerjaannya sebagai kusir kereta. Disamping itu saat sayembara pertama Putri Damayanti tidak memilih salah satu para Dewa untuk menjadi suaminya. Pada hal kesempatan itu terbuka sangat lebar, dia tetap memilih manusia  yaitu Prabu Nala. Sulit dibayangkan untuk memilih keputusan dengan alternatif  yang tersedia begitu terbuka lebar. Putri Damayanti menunjukan kebenaran yang baik, berbeda dengan manusia biasa pada umumnya.

Nilai kesetian, dimana pada saat sayembara kedua, banyak para raja-raja yang mengikuti sayembara tetapi tetap saja memilih ‘ Bahuka ‘ sebagai calon suaminya. Disamping itu pada saat tersesat ditengah hutan ada seorang pemburu yang menolongnya dan menginginkan untuk mengawininya. Putri Damayanti menolak, lalu dipaksa oleh pemburu akhirnya pemburu itu dikutuk agar celaka ditengah hutan. Dia bersumpah hanya Prabu Nalalah suami satu-satunya, yang lain tidak akan mau mengawininya.

Nilai bhakti yang tinggi, waktu para Dewa mengutus Prabu Nala untuk menyampaikan keinginannya kepada Putri Damayanti, dilakukan dengan penuh bhakti tanpa berkurang sedikitpun. Kesalahan fatal Prabu Nala saat sebelum bersembahyang lupa mencuci kaki, dimana Betara Kala dapat kesempatan mencelakakannya sehingga menderita ditengah hutan. Saat menolong seekor Naga yang terbakar sehingga memperoleh kekuatan ilmu yang berguna saat bermain judi kembali. Disamping itu saat bersama-sama sengsara ditengah hutan mereka mendapat wejangan dari pertapa agar selalu berdoa kepada Tuhan untuk kesejahtraan umat manusia, dan dunia pada umumnya. Inilah nilai Bhakti yang tinggi diperoleh walaupun dalam keadaan sengsara ditengah hutan.

Dari ceritra diatas banyak nasehat yang bisa dipetik untuk menjalani kehidupan didunia ini. Apa lagi pergolakan teknologi, material yang menggebu-gebu saat ini. Dengan ceritra itu bisa mengerem nafsu, keinginan sehingga terlepas dari penderitaan yang melanda dunia ini.

 

 

PENDERITAAN.

July 13, 2017

Seorang ‘ Pengusaha ‘ yang tadinya sukses dalam bidang bisnis lalu jatuh, segala usahanya menjadi hancur berantakan. Dia mengadu kepada seorang Bijaksana untuk meminta nasehat agar bisa terlepas dari himpitan penderitaan itu. Dia berceritra saat sukses hidupnya ‘ senang ‘ memiliki mobil mewah, rumah bagus, jalan-jalan keluar negeri bersama keluarga dll. Saat ini semuanya berubah jauh, hutang menumpuk, hidup sengsara, tinggal di rumah kontrakan, segalanya habis ludes. Orang Bijaksana itu dengan enteng berkata: “ Itu karena anda belum terbiasa “. Pengusaha itu dengan semangat agar diteruskan ceritranya dengan harapan bisa kembali sadar atas apa yang menimpanya.

Orang bijaksana itu berkata: “ Penderitaan selalu ada, manusia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Itulah sebabnya penting untuk kita merenungkan makna penderitaan itu. Kita tidak suka melakukannya, tetapi fakta yang tidak terbantahkan. Kita harus berusaha menerima dan menemukan maknanya. Orang Bijaksana itu melanjutkan: “ Dunia ini penuh dengan sifat Dualitas yaitu dua hal yang berpasangan seperti, kebahagian-penderitaan, kebaikan-keburukan, cinta-benci dll. Dengan mengalami semua itu, kita dapat belajar dan berkembang mencari kebenaran hakiki.

Orang Bijaksana itu melanjutkan: “ Penderitaanpun ada manfaatnya seperti, memahami penderitaan, ‘ pengharapan ‘ akan suatu perubahan kearah yang lebih baik, merupakan suatu kebutuhan. Dengan mengalami penderitaan itu, harapan yang berbeda dari sebelumnya tumbuh dalam pikiran kita. Disamping itu dengan jatuh dalam penderitaan manusia itu baru ‘ ingat’ Tuhan, mungkin rajin sembahyang, berdoa, meditasi dll. Pengalaman atas penderitaan itu bisa  menjadi lebih bijaksana, tidak menyalah-gunakan penderitaan orang lain, untuk kepentingan sendiri “.  Orang Bijaksana itu melanjutkan: “ Memang tidak semua setuju dengan hal diatas, banyak menentangnya malah penderitaan membuat petaka kehidupan ini. Karena penderitaan yang begitu mendalam banyak orang stress, gila, munafik, strook, bunuh diri, mati sekalipun. Oleh karena itu, mereka berpendapat penderitaan harus dilawan sekuat tenaga, dan berjuang menolak penderitaan itu “.

Pengusaha itu menyimpulkan bahwa penderitaan, ada sisi plus dan minusnya, apakah benar ?. Sang Bijaksana menjawab: “ Memang fakta-fakta diatas tidak mungkin dipungkiri, tetapi kita bisa menjadi lebih bijak karenanya. Dengan penderitaan kita tidak pernah merasa sendirian, timbul rasa persatuan diantara yang senasib. Dari pada terjerat atas plus-minus penderitaan itu ada yang lebih penting yaitu ‘ ikut merasakan penderitaan orang lain ‘ “.

Orang Bijaksana itu memulai penjelasannya dengan mengungkapkan bahwa ada 2 jenis penderitaan; 1. Penderitaan alami yaitu semua orang mengalami seperti, istri melahirkan, sakit karena penyakit, umur tua, badan lemah, semangat menurun dll, semua orang tidak terhindarkan. 2. Penderitaan dibuat sendiri yaitu karena pikiran, keinginan, tamak, loba, kama, ego, ketidak sadaran. Umumnya penderitaan ini tidak stabil tergantung kondisi yang menjadikannya. Kebanyakan penderitaan no.2 ini yang menimpa orang-orang dizaman modern ini. Pengusaha itu bertanya; “ Apakah ada cara untuk menanggulangi penderitaan no. 2 itu ? “.

Orang Bijaksana menasehati sbb: “ Kebanyakan dari kita menganggap penderitaan itu adalah sesuatu yang negatif, sangat sulit untuk dihindari. Banyak orang mencari penyebab diluar dirinya sampai-sampai menyalahkan orang lain atau dunia ini. Jarang orang yang meneliti dirinya sendiri. Ini disebabkan oleh kekacauan pikiran kita, untuk menghindari penderitaan itu. Jikalau kita tidak bersedia menghadapi penderitaan itu untuk diri sendiri, apa lagi ikut merasakan penderitaan orang lain tentu tidak mungkin. Untuk ini perlu pikiran dilatih dimulai dengan ‘ metode memberi dan menerima ‘  itu. Tentu saja pada awalnya akan ada perlawanan dari pikiran kita, karena ada rasa takut dan bimbang atas keberhasilannya. Lakukanlah dengan kesabaran dan tekad yang kuat akan keberhasilannya. Sebenarnya kita tidak perlu takut terhadap penderitaan itu, yang bisa kita ubah menjadi ‘ penyembuhan dan cinta kasih ‘. Bagaimanapun juga keadaan kita, seberapapun kemampuan kita, kita pasti dapat melakukannya. Latihan ini dapat mentransformasi keadaan menderita menjadi jalan spiritual “.

Pengusaha itu menimpali: “ Berarti penderitaan itu tidak begitu menakutkan, malah bisa dimanfaatkan untuk memperdalam serta memperkuat kehidupan kita “. Orang Bijaksana meneruskan: “ Apapun bisa kita rubah, yang menimpa diri kita, dengan penuh keyakinan, pasti berhasil dan menang. Tanpa rasa takut dan khawatir, kita memiliki sikap baru, lebih sabar, bersedia menerima-memberi dan menghargai orang lain. Namun semua kehidupan itu indah dan kita menjalaninya bersama insan lain.

Orang Bijaksana itu berkata: “ Secara singkat latihan kesulitan dapat diterapkan sbb: Pertama,  perhatikanlah saat kesulitan itu muncul, dapatkah kita memperhatikan, mengenali ?. Kedua, begitu kesulitan itu muncul, biasa kesulitan itu mendorong sangat kuatnya. Bisakah kita melepaskan ?. Ketiga, kendati sanggup melepaskan atas dorongannya itu, sanggupkah kita secara terus menerus melepaskannya dengan penuh kesabaan ?. Berlatih seperti itu akan mengenal impuls kebiasaan, lalu melepaskan, akhirnya secara terus menerus mempraktekan latihan Pertama dan Kedua itu. Hal ini lebih mudah dilakukan saat ditempat meditasi “.

TOLERANSI.

July 5, 2017

Terusik rasa toleransi beragama bangsa Indonesia sejak dimulainya pilkada DKI beberapa bulan yang lalu. Rasa simpati kejadian ini menyebar keseluruh Indonesia dan sampai pula keluar negeri. Banyak pemimpin-pemimpin bangsa memperingatkan bahaya intoleran ini jikan berkembang terus. Tidak terlepas pula pidato Obama dalam konfrensi Diaspora juga menyinggung masalah toleransi ini. Kalau diteliti keadaan Indonesia yang beragam corak baik berupa agama, suku, ras, golongan budaya merupakan berkat yang indah atas anugrah Tuhan. Ibarat sebuah taman bunga yang tumbuh subur dengan kembang yang berwarna-warni, indah dipandang mata. Tetapi dikacaukan dengan kepentingan tertentu maka keberagaman, keindahan, keharmonisan  ini menjadi terganggu oleh ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kalau kita melihat ke belakang saat Agama Hindu dan Budha datang ke bumi Nusantara ini, tidak terjadi pemaksaan, tidak ada pertumpahan darah untuk memeluk agama tertentu. Semuanya diterima dan berjalan dengan damai, dipersilahkan sesuai keyakinannya sendiri-sendiri. Perbedaan antara penganut Ciwa dan Budha dirukunkan oleh Mpu Tantular pada zaman Majapahit yang tertuang dalam kitab Sutasoma. Kerukunan ini bukan menyatukan, tetapi saling melengkapi satu sama lain, hanya dalam tatanan social kemasyarakatan saja. Penganut Hindu tetap sesuai keyakinannya dan penganut Budha tetap melaksanakan keyakinannya sendiri. Memang ada suatu daerah yang tidak begitu jelas memisahkan diantara keduanya itu ( Bali ). Keduanya bisa hidup rukun meski tetap dalam perbedaan tata cara ritual, tempat ibadah, maupun penyebutan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu.

Kalau kita kembali melihat perkembangan toleransi ini, di zama kerajaan-kerajaan di Bali, kita juga akan menemukan usaha-usaha yang sejenis. Pernah terjadi perselisihan diantara sekte-sekte agama Hindu seperti Sekte Brahmanisme, Waisnawa, Ciwaisme, Pasupata, Sora, Kala, Bairawa, Ganapateya dll. Sekte-sekte ini dirukunkan oleh Mpu Kuturan yang menjabat sebagai penasehat Raja Udayana menjadi 3 sekte. Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Tri Murti yang diaktualisasikan dalam bentuk Kahyangan Tiga. Kahyangan Tiga ini adalah Pura Desa, Puseh dan Dalem yang disungsung oleh tiap-tiap Desa Pakraman/Adat di seluruh Bali. Penyatuan sekte-sekte ini tidak bertentangan dengan apa yang diatur dalam Weda sebagai Kitab Suci umat Hindu.

Oleh karena kesadaran umat Hindu atas apa yang tercantum dalam Reg Weda bahwa: “ Hanya ada satu kebenaran tetapi para orang pandai menyebutNya dengan banyak nama “. Bait Weda ini diyakini oleh penganut Hindu bahwa ‘ kebenaran ‘ itu hanyalah milik Sanghyang Widhi Wasa. Sanghyang Widi Wasa ini mempunyai banyak nama/sebutan tergantung dengan manifestasiNya. Dalam berbagai pustaka suci Hindu, banyak terdapat sloka-sloka yang mencerminkan toleransi dan sikap adil oleh Sanghyang Widhi Wasa itu. Umat Hindu menghormati kebenaran dari manapun datangnya dimana semuanya itu menuju ke yang ‘ Satu ‘ itu. Datangnya dari bermacam-macam cara pelaksanaan yang berbeda-beda tetapi pada hakekatnya menuju ke yang sama. Keyakinan ini tercermin dalam Bhagawad Gita IX.29 yang artinya: “ Aku adalah sama bagi semua mahluk; bagiKu tiada yang terbenci dan terkasihi; tetapi mereka yang berbhakti padaKu dengan penuh pengabdian, mereka ada padaKu dan Aku ada pada mereka “.

Disamping itu Bhagawad Gita IV.11 menyatakan: “ Bagaimanapun ( Jalan ) manusia mendekatiKu, Aku terima, wahai  Arjuna. Manusia mengikuti jalanKu pada segala jalan “. Ditambah lagi penjelasan Bhagawad Gita VII.21 yang berbunyi: “ Apapun bentuk pemujaan yang ingin dilakukan oleh ‘ para bhakta ‘ dengan penuh keyakinan, Aku menjadikan bentuk keyakinannya itu menjadi mantap ( Kenyataan red. ) “. Dalam pasal ini memberi penegasan bahwa dalam beragama, setiap orang bebas memuja menurut keinginannya dan apa yang diajarkan kepada mereka yang teguh iman, karena semuanya itu diajarkan oleh ‘ Kreshna ‘ juga.

Banyak ayat, sloka sastra Hindu yang mencerminkan bahwa Hindu memiliki toleransi yang tinggi dengan agama lain. Ini berlandaskan keyakinan bahwa semua mahluk sama dimata Tuhan Yang Maha Esa. Khususnya manusia ditakdirkan sebagai mahluk social, yang membutuhkan hubungan antar mahluk hidup memerlukan kerja sama saling melengkapinya. Keyakinan ini menganggap bahwa manusia tidak akan mampu hidup tanpa mahluk lainnya yang telah diciptakan oleh Tuhan. Atas dasar konsep ini maka umat Hindu mengenal adanya Tri Hita Karana yaitu hidup rukun dengan alam lingkungan termasuk dengan semua umat manusia/ mahluk.

Atharvaveda VII.52.1 menyatakan : “ Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang asing …. “. Ini menggambarkan keserasian dan keharmonisan diantara umat manusia agar diberkati oleh Tuhan. Disamping kedua kitab suci maupun sastra-sastra Hindu diatas, konsep Tri Kaya Parisudha juga menggambarkan bahwa kita semua harus berpikir, berkata dan berbuat yang baik. Ini kesemuanya ditujukan untuk kebaikan atau keharmonisan dengan orang lain didunia ini.

Catur Paramita yaitu; Maitri artinya mengembangkan rasa kasih sayang, Mudhita yaitu simpati kepada orang yang menderita, Karuna yaitu suka menolong sesama, dan terakhir Upeksa artinya mewujudkan keserasian, keselarasan, kerukunan dan keseimbangan kesemuanya itu. Ditambah lagi konsep “ Tat Twam Asi “ yang menggambarkan “ Kamu adalah Aku “ yang sama.

Jadi dari konsep-konsep kitab suci dan sastra-sastra Hindu memang sudah jauh mengajarkan toleransi kepada umat/mahluk lain yang sama-sama ciptaan Tuhan. Kenyataan menunjukan bahwa umumnya di Bali yang mayoritas beragama Hindu kerukunan antar umat beragama terlihat jelas. Kalau diperhatikan mungkin semua kitab suci maupun sastra-sastra suci agama lain mengajarkan hal yang sama tetapi pelaksanaannya saja yang kurang sempurna.

 

CATUR NAYA SANDHI.

June 27, 2017

Berita hari ini ramai tentang bertemunya Presiden Jokowi dengan GNPF di Istana sebagai open house Idul Fitri. Setelah pertemuan selesai yang memberikan keterangan pers hanyalah anggota GNPF dan Pratikno. Ini menandakan pertemuan itu ibarat pertemuan antar masyarakat dengan Presiden yang sudah berlangsung sebelumnya. Banyak para wartawan menanyakan topik yang dibicarakan, tetapi tidak ada yang menyinggung masalah ‘ masa lalu ‘ dan ‘ masa kini ‘. Menurut mereka tidak ada bahasan serius hanya umum saja. GNPF malah meng-apresiasi program-program pemerintah untuk kemajuan Bangsa Indonesia. Artikel ini tidak meneruskan hasil pertemuan itu hanya memberikan ilustrasi dalam sistem kepemimpinan menurut agama Hindu.

Didalam agama Hindu dikenal dengan 4 sikap seorang pemimpin yang disebut ‘ Catur Naya Sandi ‘ yaitu:

a). Sama yang berarti pemimpin hendaknya selalu waspada dan selalu siap siaga untuk menghadapi segala ancaman musuh baik dari dalam maupun dari luar yang merongrong kewibawaan pemerintahannya. Kita tahu GNPF MUI adalah organisasi yang tidak jelas, melakukan demo berjilid-jilid dengan tujuan memenjarakan ‘ penista agama ‘ islam yaitu sdr. Ahok. Walaupun Ahok telah dipenjara, tetapi demo beralih sasaran kepada Pemerintah yang syah. Disinilah kewaspadaan Presiden Joko Widodo dengan menerima permohonan GNPF untuk bertemu silaturahmi mendapat momen yang tepat. Banyak pengamat politik beranggapan bahwa GNPF terjebak dari strategi Pemerintah untuk melemahkan kelompoknya. Ada yang beranggapan lain, bahwa GNPF sudah terdesak, atau sudah tidak dilirik lagi oleh kelompok yang berkepentingan lain. GNPF dianggap berbalik badan malah menyokong Pemerintah yang awalnya dibenci itu. Hal ini kelompok seberang menganggap GNPF sudah mulai berkhianat. Akhirnya diantara mereka mulai saling tidak percaya.

b) Bheda yaitu, Pemerintah merangkul dan memperlakuan hal yang sama dan adil tanpa perkecualian bagi seluruh rakyat Indonesia. Disini berarti bagi anggota masyarakat yang terlibat masalah hukum harus mengikuti peraturan yang ada ( Supremasi Hukum ). Ini bertujuan untuk menegakkan kedisiplinan dan ketertiban masyarakat pada umumnya.

c) Dhana yaitu, pemimpin hendaknya mengusahakan kesejahtraan maupun kemakmuran masyarakat luas. Disini GNPF terjebak bahwa mereka setuju ( Apresiasi ) dengan kebijakan Pemerintah yang selama ini tidak diketahui oleh kelompok mereka. Penjelasan ini disampaikan saat konfrensi pers yang dilakukan oleh Pemimpin GNPF itu sendiri.

d) Danda yaitu, Pemimpin hendaknya menghukum secara adil kepada semua yang berbuat salah atau melanggar hukum sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuatnya. Dalam pertemuan itu dimana sebelumnya diusahakan ‘ rekonsiliasi/abolisi ‘ dengan mereka, tetapi tidak disinggung sama sekali. Ini berarti Pemerintah akan tetap konsisten menerapkan supremasi Hukum bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kita tahu pemimpin besarnya sdr. RS yang sekarang lari ke Arab/ Yaman akan tetap diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Melihat strategi Presiden Joko Widodo menerapkan ‘ Catur Naya Sandhi ‘ diatas kami anggap berhasil sehingga lawan-lawan politiknya ‘ mati kutu ‘ tanpa berdarah-darah atau mereka merasa sedang dibunuh. Ibarat pemain catur Presiden terlihat membuka pertahanannya lebar-lebar seperti menunjukan kelemahannya,  pada hal merupakan jebakan yang mematikan. Disini kelihatan Presiden memperoleh 2 keuntungan yaitu meredam serangan musuh dan menaikan simpati dari umat islam maupun ulamanya. Satu persatu lawan politiknya dibuat ‘ menderita ‘ seperti AR, HTI, HT dll, sehingga keadaan politik negeri ini tidak gaduh lagi. Banyak orang menafsirkan ada hubungannya dengan pemilihan Presiden nanti tahun 2019.